LUWUK — Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Banggai menunjukkan arah yang kian membaik. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), skor IPM naik dari 72,19 pada 2023 menjadi 72,86 pada 2024. Secara klasifikasi, angka ini menempatkan Banggai dalam kategori “tinggi”, karena melampaui ambang 70.
Kenaikan tersebut sering dibaca sebagai sinyal keberhasilan pembangunan. Namun IPM bukan sekadar deret angka. Ia merekam kualitas hidup warga melalui tiga dimensi utama yakni umur panjang dan sehat, akses pendidikan, serta standar hidup layak. Artinya, setiap kenaikan seharusnya berbanding lurus dengan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Hingga Januari 2026, data IPM tahun 2025 belum dirilis oleh BPS. Kekosongan ini penting dicatat, mengingat pemerintah daerah telah menetapkan peningkatan kualitas manusia sebagai prioritas utama dalam perencanaan pembangunan. Tanpa data terbaru, masyarakat belum memiliki alat ukur untuk memastikan apakah kebijakan berjalan konsisten atau justru melambat.
Di sektor pendidikan, Pemda Banggai mengklaim kemajuan melalui penurunan jumlah anak putus sekolah. Pada awal 2023, tercatat 3.257 anak usia 7–21 tahun berstatus Anak Tanpa Sekolah (ATS). Angka tersebut berkurang menjadi sekitar 2.730–2.779 anak pada pertengahan tahun yang sama, atau turun sekitar 14 persen.
Program “Ade Kembali Sekolah” menjadi tulang punggung upaya ini, dengan pendekatan pendataan, bantuan pembiayaan, serta jalur pendidikan non-formal. Memasuki awal 2024, jumlah ATS tercatat 2.730 anak, dan pemerintah menargetkan penurunan drastis hingga sekitar 500 anak di akhir tahun.
Penurunan ini patut diapresiasi. Namun, target yang sangat ambisius juga memunculkan pertanyaan lanjutan yakni apakah sistem pendampingan cukup kuat untuk memastikan anak-anak tersebut bertahan di dunia pendidikan, atau sekadar tercatat kembali secara administratif?
Di sektor kesehatan, dinamika stunting memperlihatkan perubahan yang lebih ekstrem. Data SSGI mencatat prevalensi stunting Banggai sebesar 24,3 persen pada 2022. Angka ini bahkan sempat meningkat menjadi 29,1 persen pada 2023 berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI).
Namun pada Juni 2024, Dinas Kesehatan melaporkan penurunan drastis menjadi 10,4 persen dari 23.293 balita yang diukur. Capaian ini melampaui target nasional sebesar 14 persen dan langsung mengubah wajah statistik Banggai secara signifikan.
Penurunan tajam ini menjadi kabar baik, sekaligus menuntut kehati-hatian dalam membaca data. Publik perlu memastikan bahwa capaian tersebut mencerminkan perbaikan berkelanjutan pada gizi, sanitasi, dan layanan kesehatan, bukan semata perbedaan metode atau cakupan pengukuran. Hingga kini, data stunting tahun 2025 juga belum tersedia secara resmi.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa pembangunan manusia menjadi arah utama kebijakan. Dalam RKPD 2025, fokus diarahkan pada percepatan penurunan stunting, perluasan akses pendidikan, serta peningkatan layanan kesehatan. Program pendidikan dan intervensi sosial direncanakan berlanjut dengan dukungan infrastruktur dan bantuan ekonomi.
Sementara itu, RKPD 2026 menetapkan delapan prioritas pembangunan, dengan prioritas pertama bertajuk “pembangunan manusia unggul, berbudaya, dan berdaya saing”. Strategi pendukungnya mencakup penguatan ketahanan pangan, transformasi digital, dan pengendalian inflasi demi menjaga daya beli masyarakat.
Arah tersebut dipertegas dalam rancangan awal RPJMD 2025–2029 yang mengusung pembangunan berorientasi manusia, selaras dengan agenda nasional Asta Cita. Pemerintah menjanjikan efisiensi anggaran serta pemantauan berkala sebagai instrumen pengendalian.
Secara statistik, Banggai bergerak ke arah yang lebih baik. IPM naik, angka anak putus sekolah menurun, dan prevalensi stunting dilaporkan merosot tajam. Namun pembangunan manusia tidak berhenti pada laporan tahunan.
Ujian sesungguhnya terletak pada konsistensi kebijakan, keterbukaan data, dan dampak nyata di tingkat rumah tangga. Tanpa evaluasi independen dan pengawasan publik, optimisme berbasis data berisiko kehilangan makna sosialnya.
Pada titik inilah menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap angka yang membaik benar-benar merepresentasikan kehidupan yang membaik. Sebab data boleh berbicara optimis, tetapi realitas tetap harus diuji.
CB: PRZ
