Minimnya Dukungan Pemda, Coach Wadi Buktikan Anak Bangkep Mampu Bersaing di Level Regional

SALAKAN — Amanah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang percepatan pembangunan sepak bola nasional sejatinya menempatkan pembinaan usia dini sebagai fondasi utama.

Namun di lapangan, semangat regulasi itu kerap hidup justru dari tangan-tangan sunyi yang bekerja tanpa sorotan, salah satunya datang dari Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah.

Sekolah Sepak Bola (SSB) Sentral Jaya Sport (SJS) Football Club menggelar Fun Game Sepak Bola kategori Usia 11, 13, dan 15 tahun dalam rangka Anniversary ke-6 SSB SJS Luwuk, yang berlangsung di Stadion SSC Persibal Luwuk, Kabupaten Banggai, sejak 6 hingga 8 Februari 2026. Turnamen ini diikuti 12 tim dari kategori U-13 dan U-15, termasuk tim tamu ternama IPPOT TAPA Gorontalo.

Di antara deretan tim peserta, perhatian penonton tertuju pada satu nama yakni Prahara Bangkep. Bukan karena kemewahan fasilitas atau dukungan institusi, tetapi karena kisah di balik tim ini. Sebuah tim kolaborasi anak-anak dari berbagai kecamatan di Banggai Kepulauan, yang dibina langsung oleh Coach Wadi Alfaryski.

Berbeda dengan tim lain, Prahara Bangkep tumbuh dari tekad dan kegigihan seorang pelatih, dukungan orang tua, serta semangat para pemain, sebagian di antaranya berstatus yatim dan piatu. Mulai dari kostum, biaya latihan, hingga transportasi dan akomodasi selama turnamen, hampir seluruh kebutuhan tim dipenuhi melalui swadaya bersama.

Ironisnya, perjuangan ini bukan kali pertama. Dalam beberapa ajang tahunan sebelumnya, Prahara Bangkep telah melahirkan pemain-pemain yang mampu menembus kompetisi tingkat provinsi. Namun hingga kini, capaian tersebut belum berbanding lurus dengan perhatian dari pemerintah daerah, khususnya instansi teknis yang membidangi olahraga.

“Kami sudah beberapa kali mengajukan proposal dan bahkan meminta rekomendasi ke dinas terkait, tapi belum ada jawaban sesuai harapan,” ungkap orang tua dari salah satu pemain Prahara Bangkep, kepada media ini, Minggu (8/2/2026).

Kualitas anak-anak Prahara Bangkep kembali teruji pada ajang Anniversary SSB SJS kali ini. Tim ini sukses membawa pulang dua piala, yakni Juara III U-13 dan Juara II U-15. Pada kategori U-15, Prahara Bangkep bahkan menyingkirkan IPPOT TAPA Gorontalo di babak perempat final, sebelum akhirnya takluk tipis 0–1 dari tuan rumah SSB SJS Luwuk di partai puncak.

Prestasi ini seolah menjadi pesan terbuka bahwa bakat anak-anak Banggai Kepulauan bukan persoalan, yang masih menjadi soal adalah kehadiran negara di level daerah. Tanpa dukungan kebijakan, pembinaan, dan anggaran yang berkelanjutan, potensi itu berisiko kembali bergantung pada pengorbanan pribadi pelatih dan orang tua.

Penutupan kegiatan berlangsung aman dan penuh sportivitas, dihadiri anggota legislatif provinsi, Ketua PSSI Banggai, Ketua SSB SJS Luwuk, unsur TNI–Polri, Camat, serta Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banggai.

Usai kegiatan, Coach Wadi dan jajaran pembina Prahara Bangkep mengaku telah melakukan komunikasi singkat melalui sambungan telepon dengan Bupati dan Sekretaris Daerah Banggai Kepulauan. Harapan pun kembali disematkan agar perhatian tersebut tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berujung pada langkah nyata.

“Anak-anak ini membawa nama daerah. Yang mereka butuhkan bukan belas kasihan, tapi sistem pembinaan yang adil dan berkelanjutan,” ujar Coach Wadi.

Di tengah gencarnya jargon pembangunan olahraga, kisah Prahara Bangkep menjadi pengingat bahwa prestasi tidak selalu lahir dari fasilitas mewah, tetapi perhatian pemerintah yang menentukan apakah mimpi anak-anak daerah akan terus menyala atau perlahan padam.

CB: YSF