Koalisi Yayasan Lingkungan Pertanyakan Kesiapan Sistem Peringatan Dini di Banggai

LUWUK — Banjir yang melanda empat desa di Balantak Utara membuka celah serius dalam sistem mitigasi bencana. Warga mengaku tidak menerima peringatan dini sebelum air merendam permukiman mereka.

Padahal, fenomena cuaca ekstrem yang dipicu oleh pola atmosfer seperti shearline telah terdeteksi sebelumnya oleh BMKG. Namun, informasi tersebut dinilai tidak sampai ke masyarakat secara efektif.

Seorang warga Desa Pangkalaseang Baru menyampaikan kekecewaannya. “Kami tidak tahu kalau hujan akan separah itu. Tidak ada pemberitahuan. Tiba-tiba air sudah masuk rumah,” ujar warga.

Koalisi Yayasan Iguana Indonesia dan Yayasan Bumi dan Kita, yang disampaikan Muhammad Hidayat alias Okuk, menilai lemahnya distribusi informasi menjadi salah satu penyebab tingginya dampak bencana.

Mereka mendorong pemerintah daerah membangun sistem peringatan dini yang inklusif hingga ke pelosok desa, bukan sekadar bergantung pada rilis pusat. Informasi cuaca harus diterjemahkan menjadi langkah konkret di tingkat lokal.

“Jika informasi tidak sampai ke warga, maka sistem itu gagal,” tegas Okuk.

Warga kini berharap ada perubahan nyata, agar mereka tidak lagi menghadapi banjir tanpa persiapan.

CB: PRZ