Ancaman Gerakan Kader Menguat, Krisis Kepercayaan Menghantui HMI Luwuk Banggai

LUWUK — Tekanan terhadap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Luwuk Banggai semakin meningkat menyusul belum adanya langkah tegas atas dugaan pengungkapan aib kader perempuan oleh seorang senior di internal organisasi (nama terduga pelaku dan korban masih dirahasiakan).

Sejumlah kader menyatakan kekecewaan mereka terhadap lambannya respons pengurus. Mereka menilai, sikap diam justru memperkuat kesan adanya pembiaran terhadap dugaan pelanggaran tersebut.

“Kami tidak ingin organisasi ini kehilangan arah. Jika tidak ada tindakan, kami akan mengambil langkah gerakan,” ungkap Kurniawan.

Dugaan kasus ini tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis kader lain di Komisariat Hukum UML. Beberapa kader disebut mengalami tekanan mental akibat situasi yang berkembang di internal organisasi.

Kurniawan menilai, kasus seperti ini berpotensi merusak sistem kaderisasi jika tidak ditangani secara transparan dan adil. “Organisasi kader berdiri di atas kepercayaan. Jika itu runtuh, maka sistemnya ikut terguncang,” ujarnya.

Secara normatif, organisasi memiliki kewajiban untuk melindungi korban dari tekanan lanjutan, termasuk menjaga kerahasiaan identitas. Melakukan investigasi internal secara objektif dan transparan. Menjatuhkan sanksi tegas jika pelanggaran terbukti. Mencegah pengulangan kasus melalui pembinaan dan penguatan sistem etika.

Dalam konteks hukum, pembiaran terhadap dugaan pelanggaran yang berdampak pada korban juga dapat dinilai sebagai bentuk kelalaian institusional.

Desakan kader agar pelaku ditindak tanpa kompromi semakin menguat. Mereka menilai, keberanian mengambil keputusan akan menentukan arah kepercayaan organisasi ke depan.

Hingga saat ini, sejumlah kader masih menunggu sikap resmi pengurus. Apakah akan ada langkah tegas, atau justru krisis kepercayaan akan semakin dalam.

CB: PRZ