LUWUK — Gelombang digitalisasi kini menyasar ruang yang selama ini dianggap “paling rakyat”, yakni pasar tradisional.
Pemerintah daerah di berbagai wilayah mulai mendorong penerapan sistem portal parkir otomatis sebagai bagian dari modernisasi layanan publik. Begitupun di Kabupaten Banggai. Namun, langkah ini justru memantik perdebatan tajam di masyarakat.
Sejumlah pasar di Indonesia telah lebih dulu menerapkan sistem ini. Seperti Pasar Anom Baru di Sumenep menjadi pelopor di wilayahnya dengan sistem parkir digital sejak 2025. Disusul Pasar Sanggam Adji Dilayas di Berau yang meresmikan portal elektronik pada Februari 2026.
Di kota besar, konsep serupa sudah lebih matang. Pasar Tomang Barat, Pasar Mayestik, hingga Pasar Blok M di Jakarta memanfaatkan teknologi untuk mengatur arus kendaraan dan meningkatkan keamanan.
Tak hanya di ibu kota, kawasan penyangga seperti Tangerang Selatan juga bergerak cepat. Pasar Modern BSD dan Pasar Modern 8 Alam Sutera mengintegrasikan portal sebagai bagian dari sistem manajemen parkir modern.
Di Bandung, Pasar Baltos mengadopsi pendekatan serupa, sementara di Samarinda, Pasar Bengkuring menggunakan portal untuk pengelolaan akses dan aset. Bahkan Pasar Al Mahirah di Banda Aceh melangkah lebih jauh dengan menggabungkan parkir digital dan transaksi nontunai berbasis QRIS.
Berbeda di Kabupaten Banggai, rencana pemasangan portal di Pasar Simpong, Kecamatan Luwuk Selatan, justru memicu penolakan. Sejumlah kelompok masyarakat turun ke jalan, mendatangi DPRD untuk menyuarakan keberatan. Mereka mempertanyakan urgensi kebijakan tersebut di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Di satu sisi, sistem portal disebut mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), menekan kebocoran retribusi, serta menciptakan tata kelola yang transparan. Teknologi dianggap sebagai solusi atas praktik parkir liar dan pungutan tidak resmi yang selama ini sulit dikendalikan.
Namun di sisi lain, masyarakat melihat potensi masalah baru. Biaya parkir berpotensi naik. Pedagang kecil khawatir pembeli enggan masuk karena harus membayar lebih. Aktivitas ekonomi yang selama ini bergantung pada fleksibilitas bisa terganggu oleh sistem yang kaku dan serba otomatis.
CB: PRZ
