Hari Lingkungan Hidup Berlalu, Muhammadiyah Banggai Justru Pertanyakan Dampak Investasi

LUWUK — Pengukuhan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah di enam kecamatan Kabupaten Banggai tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi. Forum tersebut juga melahirkan kritik sekaligus tantangan terbuka terkait isu lingkungan yang dinilai belum mendapat perhatian serius dari kalangan pemuda, Sabtu (6/6/2026).

Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula BKPSDM Kabupaten Banggai itu, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Banggai, Hidayat Monoarfa, mengingatkan bahwa Pemuda Muhammadiyah harus hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam isu lingkungan hidup yang semakin mendesak.

Menurut Hidayat, ia justru merasa resah karena hampir tidak ada pembahasan mengenai persoalan lingkungan dalam berbagai ruang diskusi kepemudaan. “Saya resah karena tidak ada sedikit pun pemuda Muhammadiyah yang berbicara soal lingkungan. Padahal ini adalah persoalan yang sangat penting bagi masa depan daerah,” ujarnya di hadapan peserta pengukuhan.

Hidayat menegaskan, Pemuda Muhammadiyah tidak boleh hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga harus mampu menjadi kekuatan moral dan intelektual yang mengawal kepentingan publik. Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah melakukan kajian dan audit lingkungan secara independen.

Ia bahkan mengajak seluruh kader Pemuda Muhammadiyah untuk menjadikan isu lingkungan sebagai agenda strategis organisasi ke depan. “Mungkin lewat Pemuda Muhammadiyah hari ini kita bisa melakukan audit lingkungan. Mari kita bantu pemerintah daerah di bidang lingkungan untuk mengkaji, meneliti, lalu menyampaikan hasilnya kepada pemerintah sebagai bahan perbaikan kebijakan,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni. Menurut Hidayat, momentum tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan dan investasi tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.

Ia kemudian melontarkan pertanyaan yang dinilai menjadi tantangan bagi semua pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. “Apakah benar investasi yang masuk ke Kabupaten Banggai itu ramah lingkungan?” tanyanya.

Pertanyaan itu mengundang perhatian peserta karena menyentuh isu yang selama ini menjadi perdebatan di banyak daerah, yakni bagaimana memastikan pertumbuhan investasi tidak meninggalkan kerusakan lingkungan yang pada akhirnya harus ditanggung masyarakat.

Hidayat menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawal arah pembangunan daerah. Sebagai organisasi yang lahir dan tumbuh di tengah masyarakat, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi.

“Kami berharap Muhammadiyah yang hadir dan tumbuh bersama masyarakat Kabupaten Banggai dapat memberikan kontribusi besar bagi daerah, termasuk dalam menjaga lingkungan hidup dan masa depan generasi mendatang,” ujarnya.

Pengukuhan enam Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah di Kecamatan Balantak, Luwuk, Luwuk Utara, Luwuk Selatan, Luwuk Timur, dan Toili akhirnya tidak hanya menandai penguatan struktur organisasi. Forum tersebut juga menjadi panggung lahirnya seruan agar generasi muda mulai mengawasi dampak pembangunan dan investasi, serta memastikan kemajuan daerah tidak dibayar dengan kerusakan lingkungan.

CB: PRZ