LUWUK — Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah dikenal memiliki potensi sumber air yang melimpah. Namun kondisi tersebut justru berbanding terbalik dengan besaran anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah untuk program air bersih pada tahun 2026.
Sebelumnya, Dinas PUPR Banggai yang dipimpin Dewa Supatriagama, melalui Bidang Air Minum dan Air Limbah (AMAL), Crhistopel Satolom, yang beredar mengatakan tahun ini hanya mendapatkan alokasi sekitar Rp10 miliar. Anggaran itu turun jauh dibandingkan tahun 2025 yang mencapai sekitar Rp21 miliar.
Penurunan anggaran hampir separuh ini memunculkan pertanyaan di masyarakat, terutama karena sektor air bersih merupakan layanan dasar yang langsung menyentuh kebutuhan warga sebagaimana program Bupati Banggai.
Sejumlah penelitian dan eksplorasi ilmiah menunjukkan bahwa wilayah Banggai memiliki potensi air yang sangat besar. Dalam sebuah liputan dokumenter yang dipublikasikan oleh National Geographic Indonesia, melalui akun youtubenya, Kamis (5/3/2026), kawasan Luwuk Banggai digambarkan sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan sistem air yang unik di Sulawesi.
Tim ekspedisi yang melakukan penelusuran di wilayah tersebut menemukan berbagai sumber air alami. Mulai dari mata air pegunungan, sungai jernih, hingga jaringan gua karst yang menyimpan aliran air bawah tanah.
Potensi air tanah di kawasan ini diperkirakan mencapai miliaran meter kubik. Namun hingga kini, proyek pemompaan air tanah yang pernah dirancang BRIDA Banggai kerja sama dengan Fakultas Geografi UGM, sampai saat ini belum mampu mengangkat air satu liter pun.
Di sisi lain, air permukaan yang berasal dari berbagai mata air alami justru diketahui sangat melimpah. Bahkan debitnya disebut jauh melebihi kebutuhan air masyarakat di Kota Luwuk hingga 20-30 tahun kedepan. Sebagaimana pernah disampaikan Dr. Ir. Rizaldi Maadji, ST.MT Dosen Universitas Tadulako (Untad) Palu dengan spesialisasi bidang water supply engineering, melalui sambungan telfon, Kamis (19/2/2026) lalu.
Menurutnya, Data kebutuhan air bisa dihitung sederhana. Pemakaian air rumah tangga perkotaan 144 liter per orang per hari (Departemen PU, 2007) atau kisaran 70-250 liter per orang per hari (manual perencanaan pemakaian air).
Rizaldi mengatakan, sekarang lihat sisi pasokan atau ketersediaan air. Sumber Mata Air Bulakan disebut memiliki debit sekitar 400 liter per detik berdasarkan hasil penelitiannya tahun 2022. Artinya, satu sumber ini saja secara teoritis sudah mampu memenuhi kebutuhan proyeksi 30 tahun mendatang.
Belum lagi Mata Air Lopon dengan debit sekitar 50 liter per detik, Mata air Keles 200 liter per detik. Ditambah Mata Air Sangkolong yang disebut mencapai 600 liter per detik. “Secara matematis, total potensi air jauh melampaui kebutuhan kota,” sebutnya.
Rizaldi menilai persoalan Luwuk bukan pada ketersediaan sumber air, tetapi pada pengelolaan dan infrastruktur distribusi. “Secara sumber daya, airnya ada. Tinggal bagaimana direncanakan dan dibangun sistemnya dengan benar,” jelasnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan air, tetapi pada pengelolaan dan pembangunan infrastruktur distribusinya.
Bidang AMAL PUPR sendiri memiliki tugas strategis, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga pemeliharaan sistem air minum, pengelolaan air limbah domestik, serta penanganan sanitasi dan persampahan.
Dengan tanggung jawab yang menyentuh langsung kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, alokasi anggaran Rp10 miliar dinilai sejumlah pihak belum mencerminkan prioritas pada sektor layanan dasar.
Situasi ini memunculkan dugaan kuat bahwa program air bersih yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat, diremehkan Dinas PUPR Banggai yang dipimpin Dewa Supatriagama. Padahal program ini menjadi salah satu prioritas Bupati Banggai.
CB: PRZ
