LUWUK — Banjir di Kecamatan Balantak Utara sejak 27 Maret 2026 hingga awal April memicu desakan keras dari organisasi lingkungan. Yayasan Iguana Indonesia bersama Yayasan Bumi dan Kita, yang disampaikan Muhammad Hidayat alias Okuk, menilai pemerintah daerah gagal membaca tanda bahaya ekologis yang kian nyata.
Okuk mengatakan, Bencana yang merendam Desa Batu Mandi, Pangkalaseang, Pangkalaseang Baru, dan Batu Simpang bukan lagi sekadar dampak hujan ekstrem. Data dari BPBD Sulawesi Tengah mencatat sedikitnya 22 rumah di Desa Batu Mandi terdampak, sementara sejumlah keluarga terpaksa mengungsi.
Okuk menjelaskan, seorang warga Desa Batu Mandi mengungkapkan kondisi yang tanpa solusi nyata. “Setiap hujan deras, kami sudah siap-siap kebanjiran. Tapi sampai sekarang belum ada perubahan yang terasa,” jelasnya.
Menurut Okuk, koalisi yayasan menilai bencana ini merupakan sinyal kegagalan tata kelola lingkungan, khususnya di wilayah hulu. Kerusakan daerah aliran sungai dan berkurangnya kawasan penyangga hutan diduga memperparah luapan air.
“Ini bukan sekadar cuaca buruk. Ini akibat akumulasi kebijakan yang mengabaikan keseimbangan alam,” tegas Okuk.
Mereka mendesak pemerintah Kabupaten Banggai segera melakukan evaluasi total, termasuk audit tata ruang dan aktivitas pembukaan lahan. Tanpa langkah tegas, warga dipastikan akan terus menjadi korban siklus bencana yang sama.
CB: PRZ
