LUWUK — Bupati Banggai Amirudin menegaskan bahwa Paskibraka bukan hanya soal kemampuan baris-berbaris, tetapi juga mencerminkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepemimpinan generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka seleksi Paskibraka 2026, yang kini memasuki tahap penting setelah 247 pelajar dinyatakan lolos administrasi. Namun, pertanyaan yang muncul sejauh mana proses seleksi benar-benar mampu mengukur aspek moral dan integritas yang disebutkan?
Dalam praktiknya, seleksi seperti tes wawasan kebangsaan dan wawancara kepribadian sering kali menjadi titik krusial yang sulit diukur secara objektif. Tanpa indikator yang jelas dan pengawasan independen, penilaian bisa saja menjadi subjektif.
Bupati Amirudin sendiri menyatakan bahwa pihaknya ingin menjaring generasi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas secara intelektual dan tangguh secara mental.
Di sisi lain, tantangan terbesar justru terletak pada konsistensi pelaksanaan. Jika seleksi hanya menitikberatkan pada formalitas tahapan tanpa pendalaman kualitas peserta, maka tujuan membentuk “agen perubahan” berpotensi menjadi retorika semata.
Seleksi Paskibraka seharusnya menjadi ruang pembuktian bahwa Banggai serius dalam membangun karakter generasi mudanya bukan hanya agenda tahunan.
CB: SLV
