Pesan Bupati Banggai yang Menyayat Hati, Menggetarkan Jamaah Idul Fitri

LUWUK — Hari yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi lautan haru di Lapangan Mirqan, Halimun, Kabupaten Banggai, saat Bupati Amirudin Tamoreka tidak mampu menahan air matanya dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah khutbahnya, ia berhenti sejenak. Suaranya tercekat. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak lagi berbicara tentang pembangunan atau politik. Ia berbicara tentang sosok yang paling dekat namun sering terlupakan. Adalah orang tua.

Dengan penuh emosi, Amirudin mengingatkan betapa besar pengorbanan orang tua terhadap anak-anaknya. Pengorbanan yang sering kali tidak terbalaskan hingga akhir hayat.

“Bagi yang orang tuanya masih hidup, bersimpuhlah… cium kakinya… rawat mereka,” ucapnya terbata.

Tangisnya pecah. Jamaah terdiam. Beberapa tampak menunduk, menyeka air mata. Pesan itu sederhana, tetapi menghantam ruang batin yang paling dalam. Di hari kemenangan, banyak yang tersadar. Tidak semua orang masih memiliki kesempatan untuk memeluk orang tuanya.

Ia melanjutkan, bagi mereka yang telah kehilangan orang tua, satu hal yang masih bisa dilakukan adalah mendoakan. Doa menjadi jembatan terakhir antara yang hidup dan yang telah tiada.

Khutbah itu tidak hanya menjadi nasihat keagamaan, tetapi juga cermin bagi setiap anak. Sudahkah kita cukup berbakti? Atau justru kita menunda hingga waktu tidak lagi memberi kesempatan?

Di tengah gema takbir Idul Fitri, tangis itu menjadi pengingat paling jujur. Bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal kembali ke fitrah, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang tua selama mereka masih ada.

CB: PRZ