LUWUK — Ada momen yang tak bisa dibeli oleh strategi politik, tak bisa direkayasa oleh panggung kampanye, dan tak bisa dipaksakan oleh kepentingan. Momen itu bernama keikhlasan. Itulah yang terasa dalam kegiatan Halal Bi Halal yang digelar oleh pasangan Bupati dan Wakil Bupati Banggai, Amirudin Tamoreka dan Furqanudin Masulili, Jumat (10/4/2026) di kompleks Kantor Bupati Banggai.
Pantauan di tempat kegiatan, di tengah suasana hangat, publik disuguhkan pemandangan yang jauh lebih kuat dari sekadar seremoni. Kehadiran pasangan calon dalam Pilkada Banggai 2024, Sulianti Murad dan Samsulbahri Mang.
Belum lama berselang, kontestasi politik memperlihatkan wajah kerasnya. Kata-kata tajam berseliweran, sekat sosial mengeras, bahkan hubungan antarwarga sempat merenggang. Pilkada bukan hanya soal memilih pemimpin, tapi juga menguji kedewasaan kolektif masyarakatnya.
Namun, di momentum Halal Bi Halal ini, sesuatu yang berbeda terjadi. Mereka yang sebelumnya berhadap-hadapan, kini duduk berdampingan. Mereka yang dulu saling mengkritik, kini saling menyapa. Bukan hanya formalitas, tapi isyarat kuat bahwa Banggai tidak boleh terus terjebak dalam bayang-bayang perpecahan.
Di sinilah letak “guncangan” yang sesungguhnya. Bukan kegaduhan, tetapi kesadaran. Bahwa politik seharusnya selesai di kotak suara. Bahwa setelahnya, yang tersisa bukan siapa menang atau kalah, tetapi bagaimana semua pihak mengambil bagian dalam membangun daerah. Bahwa dendam politik hanya akan memperlambat langkah Banggai menuju masa depan yang lebih baik.
Kehadiran Sulianti Murad – Samsulbahri Mang dalam kegiatan yang diinisiasi Amirudin Tamoreka – Furqanudin Masulili bukan hanya simbol rekonsiliasi elit. Ini adalah pesan terbuka bagi masyarakat, bahwa perbedaan pilihan tidak boleh berubah menjadi permusuhan berkepanjangan.
Momentum ini seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu diterjemahkan menjadi energi baru. Saling mendukung program pembangunan, saling mengawal kebijakan, dan saling mengingatkan jika ada yang melenceng.
Banggai tidak kekurangan potensi. Yang kerap menjadi hambatan justru adalah perpecahan kecil yang dibiarkan tumbuh besar.
Hari ini, melalui jabat tangan yang sederhana, kita diingatkan bahwa masa depan tidak dibangun oleh satu kelompok saja, tetapi oleh kesediaan semua pihak untuk berjalan bersama. Disinilah kemenangan yang sebenarnya. Bukan pada hasil Pilkada, tetapi pada kemampuan untuk kembali bersatu setelahnya.
CB: PRZ
