Warga Kayutanyo Bertaruh Hidup di Tengah Dahaga, Dimana Nurani Pemerintah?

LUWUK — Warga Desa Kayutanyo, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, hingga kini masih menghadapi krisis air bersih. Di saat banyak wilayah sudah menikmati akses air layak, ratusan kepala keluarga di desa itu justru harus menempuh jarak belasan kilometer demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Keluhan itu disampaikan langsung Ketua BPD Desa Kayutanyo, Mansur Malida, saat Anggota DPRD Kabupaten Banggai, Batia Sisilia Hadjar menggelar reses di desa tersebut, Rabu (6/5/2026).

Menurut Mansur, warga sudah berulang kali menyampaikan persoalan itu dalam forum Musrenbang. Namun hingga sekarang, kebutuhan dasar masyarakat belum juga terpenuhi.

Ia menjelaskan, sumber air yang dapat digunakan warga berada sekitar 13 kilometer dari desa. Kondisi itu memaksa masyarakat mengeluarkan tenaga, biaya, bahkan mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mendapatkan air.

“Paling tidak dibutuhkan delapan titik sumur bor untuk membantu lebih dari 200 kepala keluarga di desa ini,” ujar Mansur.

Kesulitan warga tidak berhenti di situ. Sebagian masyarakat bahkan harus menggunakan perahu menuju Desa Louk untuk mengambil air bersih. Situasi menjadi semakin berat ketika perahu mengalami kerusakan. “Kalau perahu bermasalah, kami benar-benar kesulitan,” ungkap warga lainnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa air bersih di Desa Kayutanyo bukan keluhan biasa, tetapi kebutuhan mendesak yang menyangkut kesehatan dan kelangsungan hidup masyarakat.

Di tengah berbagai pembangunan yang terus digaungkan, warga berharap pemerintah daerah tidak lagi menunggu krisis membesar sebelum bertindak. Bagi masyarakat Kayutanyo, sumur bor bukan proyek mewah, tetapi harapan agar mereka tidak terus hidup dalam kecemasan setiap kali persediaan air habis.

CB: PRZ