LUWUK — Harga ikan malalugis dan deho di Kabupaten Banggai melonjak tajam. Dalam beberapa hari terakhir, satu keranjang atau basket ikan dilaporkan mencapai harga Rp1,8 juta di tingkat pedagang.
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran karena ikan merupakan salah satu sumber pangan utama masyarakat pesisir. Saat harga ikan naik, beban belanja rumah tangga ikut meningkat dan daya beli masyarakat berpotensi tertekan.
Ipul, salah satu pedagang ikan di Pasar Unjulan, Kelurahan Kilongan, Kecamatan Luwuk Utara, mengatakan harga ikan saat ini memang sedang tinggi. Untuk harga eceran menjadi Rp 10-15 ribu per ekor. “Memang lagi mahal ikan, Pak,” ujar Ipul saat ditemui di lokasi pasar, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, ikan malalugis dan deho yang didatangkan dari Kabupaten Banggai Laut dibeli dengan harga sekitar Rp1,6 juta per basket. Setelah sampai di Kabupaten Banggai, harga tersebut naik menjadi sekitar Rp1,8 juta per basket.
Kenaikan harga ini menunjukkan adanya tambahan biaya distribusi dan operasional sebelum ikan sampai ke tangan pedagang dan konsumen. Kondisi tersebut membuat harga jual di pasar ikut terdorong naik.
Bagi masyarakat, lonjakan harga ikan bukan hanya angka. Kenaikan tersebut berpotensi mengurangi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, terutama bagi warga yang mengandalkan ikan sebagai menu utama.
Sejumlah pembeli di pasar mengaku mulai menyesuaikan jumlah belanja karena harga yang terus bergerak naik. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, bukan tidak mungkin konsumsi ikan masyarakat akan ikut menurun.
Lonjakan harga ikan ini menjadi pengingat bahwa ketika biaya pangan meningkat, dampaknya langsung dirasakan di meja makan rakyat. Bagi banyak keluarga, harga ikan yang terus merangkak naik berarti pilihan belanja semakin sempit dan pengeluaran harian semakin berat.
CB: PRZ
