Pengabdian 40 Tahun di SLB Negeri, Esron Akhirnya Pamit

LUWUK — Kisah pengabdian luar biasa kembali menginspirasi dunia pendidikan. Setelah mendedikasikan diri selama 40 tahun 3 bulan sebagai guru, 27 tahun 6 bulan sebagai Kepala Sekolah, Esron Yukulan, S.Pd, M.Pd. resmi mengakhiri masa tugasnya di SLB Negeri Luwuk.

Dalam momen perpisahan yang penuh haru, kepemimpinan sekolah kini resmi diteruskan Waode Murni, S.Ag, yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan memajukan pendidikan bagi anak-anak disabilitas.

​Bagi Esron, perjalanan panjangnya bukanlah tentang keluh kesah. Ia lebih memilih menyebut segala kesulitan yang dihadapi sebagai sebuah tantangan. Di awal masa pengabdiannya sejak tahun 1986, mendidik anak-anak berkebutuhan khusus memiliki dinamika tersendiri yang sangat berat.

“Dulu, kami harus mencari murid dari rumah ke rumah (door to door). Kami bersosialisasi dengan masyarakat sampai ke Batui agar anak-anak disabilitas mau bersekolah dan orang tua mereka diberi pemahaman,” kenang Esron, Selasa (7/7/2026).

​Selain penolakan atau minimnya kesadaran masyarakat kala itu, keterbatasan fasilitas dan krisis tenaga pendidik juga sempat menjadi batu sandungan. ​Krisis guru dari yang awalnya memiliki 6 orang, sekolah sempat bertahan hanya dengan 3 guru karena sisanya harus pulang ke Jawa.

Tantangan lainnya, kompetensi yang dirasa belum cukup, ditambah dengan fasilitas penunjang yang sangat minim. Saat itu, bantuan pun baru bersumber dari Dinas Sosial dan Bupati saja.

​Namun seiring berjalannya waktu, pemerintah perlahan mulai memenuhi fasilitas sekolah. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Esron mengaku sangat bersyukur karena merasa sangat dihargai oleh pemerintah.

“Mengajar di sini mendatangkan kegembiraan tersendiri. Ada suka cita besar saat kami dianggap layak menangani anak-anak disabilitas. Walau ada banyak godaan jabatan lain di luar sana, hati saya tetap memilih untuk menjadi guru SLB,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Menutup masa baktinya, Esron menyampaikan pesan mendalam bagi keberlanjutan SLB Negeri Luwuk. Ia percaya bahwa regenerasi adalah jalan terbaik demi kemajuan sekolah.

​”Tugas saya boleh berakhir, karena setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Sekarang adalah waktu bagi pemimpin baru untuk melanjutkan pekerjaan besar ini,” tutur Pak Esron.

​Ia menitipkan harapan besar agar Kepala Sekolah yang baru dapat melanjutkan, memperbaiki, dan mengembangkan program-program sekolah yang sudah ada. Ia juga menekankan pentingnya sinergi. “Kepala sekolah tidak akan bisa berkembang sendirian. Ibu Kepsek dan para guru harus bekerja sama secara solid,” tambahnya.

​Estafet perjuangan kini berada di tangan Waode Murni, S.Ag. Menariknya, Ibu Murni awalnya merupakan guru agama di sekolah umum, tepatnya di SMPN 6 sejak Februari 2016. Karena kondisi sekolah yang kelebihan guru agama, ia kemudian mengajar di SLB Negeri Luwuk untuk mencukupkan jam mengajar.

​Namun, interaksinya dengan anak-anak luar biasa di SLB Negeri Luwuk justru menumbuhkan rasa cinta dan empati yang mendalam. Alih-alih kembali ke sekolah umum, atas inisiatif sendiri, ia memilih pindah sepenuhnya ke sekolah ini.

​”Saya sangat bersyukur bisa melihat dan mendampingi kekurangan anak-anak di sini. Hal itu justru membuat saya semakin bersyukur dan tergerak,” kata Murni.

​Sekarang, sekolah ini memiliki lebih dari 60 murid yang tersebar di 3 jenjang pendidikan, dengan mayoritas adalah anak tuna rungu. Ke depan, Murni berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan kepala sekolah sebelumnya, termasuk gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas.

​”Kami akan terus mengetuk hati masyarakat agar tidak ada lagi anak-anak disabilitas yang disembunyikan. Mereka semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak demi masa depan mereka,” tegas Murni.

CB: SLV