LUWUK — Di tengah meningkatnya perhatian nasional terhadap krisis energi dan tuntutan efisiensi anggaran, Anggota Komisi XII DPR RI, Beniyanto Tamoreka, mengajak masyarakat dan pemerintah daerah mulai mengambil langkah nyata menuju penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Ajakan itu disampaikan Beni saat melaksanakan masa reses bersama masyarakat, Selasa (7/7/2026). Menurutnya, ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya membebani pengeluaran masyarakat, tetapi juga membuat biaya operasional pemerintah terus membengkak.
“Sudah saatnya kita mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan energi baru juga mampu menghemat pengeluaran masyarakat maupun pemerintah,” ujar Beni.
Dalam pertemuan tersebut, Beni memaparkan simulasi sederhana yang mudah dipahami masyarakat. Ia menyebut biaya operasional kendaraan berbahan bakar minyak dapat mencapai sekitar Rp300 ribu setiap hari, terutama bagi kendaraan yang digunakan secara rutin.
Jika kondisi itu berlangsung selama satu bulan, pengeluaran dapat mencapai jutaan rupiah. Anggaran sebesar itu, menurut Beni, sebenarnya bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pendidikan anak, hingga mendukung program pembangunan daerah.
Sebagai alternatif, Beni mendorong masyarakat mulai mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV). Menurutnya, biaya pengisian daya kendaraan listrik jauh lebih rendah dibandingkan konsumsi BBM, sehingga mampu menekan biaya operasional dalam jangka panjang.
Ia menilai langkah tersebut bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi strategi menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Semakin cepat masyarakat dan pemerintah beradaptasi dengan energi bersih, semakin besar peluang daerah menghemat anggaran sekaligus mengurangi emisi yang berdampak terhadap lingkungan.
Beni juga berharap pemerintah daerah mulai menyusun kebijakan yang mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan, termasuk penyediaan infrastruktur pendukung kendaraan listrik dan edukasi kepada masyarakat.
Menurutnya, perubahan besar selalu diawali dari keberanian mengambil langkah pertama. Karena itu, momentum reses dimanfaatkannya bukan hanya untuk menyerap aspirasi warga, tetapi juga mengajak masyarakat mempersiapkan diri menghadapi era transisi energi.
“Kalau hari ini kita bisa menghemat biaya energi, maka besok anggaran itu dapat digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting bagi masyarakat,” tegasnya.
Melalui edukasi tersebut, Beni berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya efisiensi energi terus meningkat. Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan pembangunan yang semakin besar, penggunaan energi yang lebih hemat dinilai bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang harus mulai diwujudkan bersama.
CB: SLV
