JAKARTA — Jika kebutuhan makanan itu dipenuhi dari produksi masyarakat daerah, dampaknya bisa bergerak jauh lebih besar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berbicara tentang makanan yang diterima masyarakat. Program tersebut berpotensi menciptakan rantai ekonomi dari hulu hingga hilir.
Petani membutuhkan pasar. Nelayan membutuhkan pembeli. Peternak membutuhkan kepastian penyerapan hasil produksi. Pelaku usaha pangan membutuhkan permintaan yang stabil. Di sinilah MBG dapat memainkan peran yang lebih besar. Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi khusus yang melibatkan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), BGN, dan seluruh pemerintah daerah, Kamis (13/8/2026).
Menurut Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengatakan, melalui implementasi yang optimal, program tersebut diharapkan menggerakkan rantai pasok pangan daerah. Bahan pangan yang dibutuhkan untuk memenuhi program dapat menyerap produksi petani, nelayan, peternak, serta produsen pangan lainnya. Dampaknya tidak berhenti pada produsen. Ketika permintaan meningkat, aktivitas distribusi ikut bergerak. Pedagang, pengangkut, pengolah makanan, hingga usaha kecil yang berada di sekitar rantai pasok berpeluang memperoleh manfaat.
Dengan kata lain, uang yang dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan MBG berpotensi berputar lebih lama di dalam ekonomi daerah. Efek lainnya berkaitan dengan inflasi. BGN dinilai dapat membantu pemerintah mengendalikan tekanan harga melalui intervensi penyerapan pasokan pangan di daerah. Ketika produksi masyarakat memiliki pasar yang jelas, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk mengatur keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan. Namun, peluang tersebut tidak otomatis menjadi kenyataan.
Menurut Tito, Pemerintah daerah harus mampu memastikan produksi lokal memiliki kualitas, jumlah, kontinuitas, serta distribusi yang memadai untuk mendukung kebutuhan MBG. Di sinilah kolaborasi antara pemerintah daerah dan BGN menjadi penting. Jika daerah hanya menjadi tempat pelaksanaan program tanpa melibatkan kekuatan ekonomi lokal, manfaat MBG berpotensi tidak maksimal. Sebaliknya, jika rantai pasok dibangun dari produksi masyarakat sendiri, dampaknya dapat menjalar lebih luas.
Petani mendapatkan pasar. Nelayan mendapatkan pembeli. Peternak mendapatkan kepastian permintaan. UMKM mendapatkan peluang usaha. Masyarakat memperoleh makanan bergizi. Pemerintah daerah mendapatkan peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengejar target pembangunan. Karena itu, MBG layak dilihat lebih jauh dari sekadar program pemberian makanan.
Jika rantai tersebut benar-benar melibatkan masyarakat lokal, MBG dapat menjadi salah satu mesin ekonomi baru di daerah. Tetapi jika daerah gagal membangun rantai pasok lokal, peluang ekonomi itu bisa lewat begitu saja.
CB: PRZ
