Minyak Dunia Bergejolak, DPR Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik

JAKARTA — Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai gejolak harga minyak mentah dunia tidak boleh membelenggu perekonomian Indonesia. Salah satu jawabannya adalah mempercepat transisi energi, termasuk mendorong penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Bambang menyampaikan pandangan tersebut setelah mengikuti Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Menurutnya, eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan dinamika perdagangan di Selat Hormuz memang berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah internasional. Harga tersebut bahkan bergerak mendekati asumsi Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD75 per barel.

Namun, ia menilai kondisi rantai pasok dunia secara umum sudah kembali normal. Karena itu, kenaikan harga minyak justru dapat menjadi pemicu perubahan perilaku konsumen dan industri. “Jika harga minyak dunia terlalu tinggi, ini justru akan mempercepat transisi energi. Mempercepat peralihan dari penggunaan BBM kepada kendaraan listrik,” kata Bambang.

Ketika harga minyak naik, biaya transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi berpotensi ikut tertekan. Bagi negara yang masih membutuhkan bahan bakar fosil, gejolak pasar global dapat berubah menjadi tekanan bagi masyarakat. Bambang melihat kondisi tersebut akan menciptakan mekanisme substitusi. Ketika minyak semakin mahal, masyarakat dan industri akan mencari sumber energi yang lebih murah dan efisien. “Semua akan ada perimbangannya, semua akan ada substitusinya. Jika kemudian harga crude terlalu tinggi, masyarakat sendiri dan dunia itu akan melirik kepada mana yang akan lebih murah,” ujarnya.

Dengan kata lain, mahalnya minyak fosil dapat menjadi dorongan kuat bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Bambang juga mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik, baik untuk sepeda motor maupun mobil.

Menurutnya, percepatan tersebut bukan hanya perubahan teknologi transportasi. Kebijakan itu juga berkaitan langsung dengan ketahanan energi dan kemampuan Indonesia menghadapi gejolak geopolitik global. “Presiden sudah memberikan program bagaimana percepatan untuk kendaraan listrik, baik itu motor maupun kendaraan mobil,” kata Bambang.

Ia menilai pemerintah telah memahami bahwa persoalan energi tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik dunia. Presiden, lanjut Bambang, harus memastikan persoalan geopolitik Timur Tengah tidak berubah menjadi masalah besar bagi perekonomian Indonesia. Di tengah ancaman fluktuasi harga minyak, Indonesia tidak cukup hanya menunggu harga minyak dunia kembali stabil. Indonesia harus mempercepat jalan keluar dari ketergantungan terhadap minyak.

Ketika harga minyak ditentukan oleh konflik dan jalur perdagangan global, ketahanan energi Indonesia ikut dipertaruhkan. Kendaraan listrik menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk menjaga ekonomi tetap bergerak saat harga minyak dunia mengguncang.

CB: PRZ