TK Adhyaksa Dapat Rp 1 Miliar, Siswa Masungkang Bertaruh Nyawa Demi Ujian

LUWUK — Di saat Pemerintah Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah mengalokasikan anggaran sekitar Rp1 miliar untuk pembangunan TK Adhyaksa Milik Kejaksaan Banggai, potret berbeda justru terlihat di Kecamatan Batui.

Aktivis Banggai, Muhammad Hidayat alias Okuk, menyoroti kondisi sejumlah siswa SMP Negeri 5 Masungkang yang harus menyeberangi Sungai Masungkang untuk mengikuti ujian sekolah pada hari ketiga pelaksanaan ujian akhir.

Informasi tersebut diketahui dari unggahan media sosial milik Ketut Suartama pada 25 Mei 2026 lalu, yang memperlihatkan para pelajar berupaya menyeberangi sungai demi mencapai lokasi ujian.

Menurut Okuk, kondisi itu menggambarkan masih adanya persoalan mendasar di sektor pendidikan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

“Anak-anak harus berjuang menyeberangi sungai hanya untuk mengikuti ujian sekolah. Tidak ada kendaraan pengangkut, tidak ada jembatan yang memadai,” ujar Okuk.

Ia mengungkapkan, puluhan siswa sebelumnya bahkan dilaporkan gagal mengikuti ujian pada hari pertama akibat tidak dapat menyeberangi Sungai Kayuwa yang meluap setelah diguyur hujan deras. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mengenai arah prioritas pembangunan pendidikan di Kabupaten Banggai.

Di satu sisi, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan gedung TK Adhyaksa yang proses pengusulannya disebut telah berlangsung sejak 2023. Di sisi lain, masih terdapat peserta didik yang harus menghadapi risiko keselamatan hanya untuk memperoleh hak dasar mereka mengikuti ujian sekolah. Tidak sedikit warga yang kemudian membandingkan dua kenyataan tersebut.

Satu kelompok peserta didik akan segera menikmati bangunan baru dengan dukungan anggaran terbesar pada jenjang taman kanak-kanak. Sementara kelompok lainnya masih berhadapan dengan sungai yang meluap setiap kali hujan turun.

Okuk menegaskan kondisi siswa di daerah terpencil seharusnya menjadi perhatian yang lebih besar dari TK Adhyaksa Milik Kejaksaan Banggai. “Semua anak Luwuk Banggai berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak. Jangan sampai ada kesan bahwa bangunan lebih mudah diperhatikan daripada akses anak-anak menuju sekolah,” katanya, Rabu (3/6/2026).

Persoalan ini menjadi perhatian masyarakat tentang bagaimana kebijakan pendidikan mampu menjawab kebutuhan yang paling mendesak di lapangan. Sebab bagi siswa di Masungkang, ruang kelas yang megah mungkin bukan kebutuhan pertama yang mereka pikirkan hari ini.

“Yang mereka butuhkan adalah cara aman untuk sampai ke sekolah dan mengikuti ujian tanpa harus mempertaruhkan keselamatan di tengah derasnya arus sungai,” tutup Okuk.

CB: PRZ