LUWUK — Hari Buruh Internasional atau May Day kembali diperingati sebagai simbol perjuangan kelas pekerja, Jumat (1/5/2026). Namun di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, peringatan ini justru terasa seperti panggung ironi. Ketika buruh dirayakan secara seremonial, realitasnya masih berkutat pada persoalan klasik yang tak kunjung selesai.
Sekretaris FNPBI Kabupaten Banggai, Sugianto Adjadar, menegaskan bahwa May Day bukan hanya perayaan tahunan. Ia menyebut hari ini sebagai hasil dari perjuangan panjang yang dipenuhi pengorbanan kaum buruh.
“Buruh adalah penggerak utama roda ekonomi. Tapi dalam praktiknya, mereka justru berada dalam posisi paling rentan,” ujar Sugianto, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, secara statistik, kondisi ketenagakerjaan di Banggai seolah menunjukkan capaian. Data Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2025 berada di angka 3,07 persen atau sekitar 6.299 orang. Turun tipis dari tahun sebelumnya sebesar 3,11 persen.
Angka ini sekilas tampak sebagai “prestasi”. Namun, jika ditelaah lebih dalam, Banggai justru masih menempati posisi keempat tertinggi tingkat pengangguran di Sulawesi Tengah. Sebuah capaian yang mengundang pertanyaan, apakah penurunan angka ini benar mencerminkan perbaikan, atau hanya kosmetik statistik?
Di balik angka-angka itu, kata Sugianto, realitas buruh justru berbicara lain. Banyak pekerja masih menghadapi ketidakpastian upah, kontrak kerja jangka pendek, hingga minimnya perlindungan hukum.
Ironinya, di tengah arus investasi yang diklaim sebagai motor pertumbuhan ekonomi, buruh justru menjadi pihak yang paling sering menanggung risiko. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan, tetapi keadilan sosial tertinggal.
CB: PRZ
