Buku “Presiden Solusi” Dibagikan

BATAM — Ketidakpastian global terus bergerak dan dampaknya bisa dirasakan masyarakat. Di tengah situasi itu, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mampu membaca masalah, tetapi juga cepat menemukan jalan keluarnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago membawa pesan tersebut dalam Rapat Koordinasi Forkopimda Regional Sumatera di Aula BP Batam, Kota Batam, Rabu (12/8/2026).

Dalam kegiatan itu, Djamari membagikan buku “Presiden Solusi” kepada para peserta Rakor. Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu referensi bagi para pemimpin daerah dalam melihat persoalan sekaligus merumuskan langkah penyelesaian secara efektif dan kolaboratif. Bagi pemerintah, persoalan yang muncul di tengah masyarakat tidak cukup hanya diidentifikasi. Setiap masalah membutuhkan keputusan dan kerja bersama agar dampaknya tidak semakin luas.

Menko Djamari mengingatkan bahwa dinamika global saat ini memberikan dampak terhadap berbagai negara. Bahkan, belum dapat dipastikan kapan berbagai persoalan tersebut benar-benar berakhir. Situasi itu membuat pemerintah pusat dan daerah harus memperkuat koordinasi.

Salah satu langkah yang disebut Menko Polkam adalah kebijakan pemerintah di sektor energi. Pemerintah berupaya menjaga harga bahan bakar bersubsidi sekaligus mencari sumber bahan bakar lain untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok. Langkah tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari luar negeri pada akhirnya dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Namun ancaman terhadap stabilitas tidak hanya datang dari sektor ekonomi dan energi. Ruang digital juga menjadi medan yang tidak kalah penting. Menko Polkam menilai disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian dapat memengaruhi cara masyarakat melihat kondisi bangsa. Jika informasi menyesatkan terus beredar tanpa diimbangi informasi yang benar, masyarakat dapat kehilangan kepercayaan dan berubah menjadi pesimistis. “Saya mengistilahkan semua bahwa pertempuran kita itu ada di media sosial. Media sosial adalah ajang pertempuran kita berada di situ,” kata Djamari.

Ia memperingatkan bahwa pengaruh informasi tersebut dapat melekat dalam pikiran masyarakat, termasuk generasi muda. “Disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian itu melekat di benaknya anak-anak kita, anak-anak muda kita, dan kita. Dan itu sangat berbahaya. Mengapa? Akan timbul manusia-manusia yang pesimistis,” tegasnya.

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah diminta tidak membiarkan ruang digital dipenuhi informasi yang menyesatkan. Komunikasi publik harus diperkuat dengan informasi yang benar, mudah dipahami, dan mampu membangun optimisme masyarakat. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, pemerintah dituntut bukan hanya mampu mengendalikan keadaan, tetapi juga mampu menjaga agar masyarakat tidak kehilangan harapan.

CB: PRZ