LUWUK — Pernyataan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, tentang “nasi kuning termahal di Sulawesi Tengah” langsung mencuri perhatian. Kalimat itu terlontar saat ia beristirahat usai meninjau ruas jalan provinsi yang masuk dalam Program 1.000 Kilometer Tol Desa di Desa Tontouan, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai.
Namun, yang dimaksud gubernur bukanlah harga seporsi nasi kuning yang mahal. Nilai “termahal” itu, menurutnya, lahir dari keindahan alam yang menjadi teman santap siang.
Usai meninjau kondisi jalan, Anwar Hafid bersama rombongan singgah di kawasan Air Terjun Mokokawa. Di lokasi itu, ia menikmati nasi kuning sambil memandang panorama air terjun yang masih alami. Air terjun Mokokawa sendiri terletak di pegunungan Desa Tontouan, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
“Bukan nasi kuningnya yang mahal, tapi view-nya itu yang luar biasa. Jadi bawa nasi kuning, makannya di Air Terjun Mokokawa,” ujar Anwar Hafid belum lama ini.
Ucapan tersebut disambut senyum para pendampingnya. Momen sederhana itu sekaligus menjadi promosi tidak langsung bagi potensi wisata alam di Kabupaten Banggai.
Air Terjun Mokokawa selama ini dikenal memiliki panorama yang masih asri dengan aliran air yang jernih dan pepohonan yang rindang. Lokasi tersebut menjadi salah satu destinasi yang dinilai memiliki daya tarik besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata.
Kunjungan gubernur ke kawasan itu merupakan bagian dari agenda peninjauan infrastruktur jalan provinsi melalui Program 1.000 Kilometer Tol Desa. Program tersebut ditujukan untuk membuka akses wilayah, memperlancar mobilitas masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
Di sela agenda kerja yang padat, Anwar Hafid menunjukkan bahwa perjalanan dinas tidak selalu identik dengan ruang rapat. Sepiring nasi kuning di tengah kesejukan Air Terjun Mokokawa justru menjadi simbol bahwa kekayaan alam Sulawesi Tengah memiliki nilai yang jauh lebih mahal daripada harga makanan itu sendiri.
CB: PRZ
