JAKARTA — Ketergantungan Indonesia terhadap energi impor menjadi perhatian serius Pemerintah. Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa kedaulatan energi bukan hanya target ekonomi, tetapi bagian penting dari upaya memperkuat kemandirian Indonesia. Dalam pidato kenegaraannya, Prabowo menegaskan komitmen Pemerintah untuk mewujudkan swasembada sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.
Salah satu langkah yang didorong adalah implementasi B50, yakni penggunaan campuran biodiesel berbasis minyak sawit dengan solar dalam komposisi tertentu. Indonesia ingin mengurangi ketergantungan terhadap solar dari luar negeri dengan memanfaatkan sumber daya energi yang tersedia di dalam negeri. Jika implementasi B50 berjalan sesuai target, Indonesia diproyeksikan tidak lagi mengimpor solar. Dampaknya bukan hanya pada ketahanan energi, tetapi juga terhadap keuangan negara.
Pemerintah memperkirakan kebijakan tersebut dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun. Angka itu menunjukkan besarnya biaya yang selama ini harus ditanggung ketika kebutuhan energi nasional masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Bagi masyarakat awam, persoalannya sederhana. Setiap kali Indonesia mengurangi impor energi, semakin kecil pula ketergantungan terhadap negara lain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri. Sebaliknya, semakin besar kemampuan memproduksi dan memenuhi kebutuhan energi dari dalam negeri, semakin kuat pula posisi Indonesia menghadapi gejolak harga energi global.
Prabowo menegaskan, Pemerintah akan terus mengoptimalkan sumber daya energi nasional untuk mengurangi ketergantungan impor. B50 pun tidak hanya ditempatkan sebagai kebijakan bahan bakar. Di baliknya terdapat agenda membangun Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Jika berhasil, B50 dapat menjadi salah satu titik balik perjalanan Indonesia dari negara yang masih bergantung pada energi impor menuju negara yang lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya sendiri.
CB: PRZ
