LUWUK — Klek… klek… Bunyi kran itu kembali terdengar. Diputar ke kiri, tidak ada air. Diputar ke kanan, tetap kering. Seorang ibu rumah tangga, masih muda, asal Desa Awu, Kecamatan Luwuk Utara, Kabupaten Banggai, berdiri di depan kran dengan wajah frustrasi. Ia mencoba lagi. Barangkali air akan mengalir setelah beberapa kali diputar.
Namun harapan itu kembali berakhir dengan suara kran yang kosong. “Huuh, setiap hari begini. Air mati terus,” ketus ibu muda itu sambil menarik napas panjang, Sabtu (3/10/2026).
Bagi sebagian orang, air mungkin tinggal membuka kran. Namun bagi warga tertentu di Desa Awu, mendapatkan air bersih tidak sesederhana itu. Air bisa mengalir hanya beberapa jam. Setelah itu, kran kembali kering. Bahkan, menurut ibu muda yang meminta namanya tidak disebutkan ini mengatakan, kondisi tersebut telah berulang dan menjadi bagian dari keseharian warga. “Air lancar hanya ketika mendekati waktu membayar. Itu pun hanya beberapa jam,” ujarnya.
Sebagai konsumen, kata sang ibu muda itu, ia merasa dirugikan. Sebab, tidak semua rumah tangga di Desa Awu mendapatkan aliran air pada waktu yang sama. Ada rumah yang airnya mengalir. Ada pula rumah yang harus menunggu tanpa kepastian. “Padahal, kami aktif membayar tagihan PDAM di kantor,” keluhnya kesal.
Bagi warga yang airnya tidak mengalir, waktu menjadi sesuatu yang harus dipertaruhkan. Sang ibu muda itu bersama suaminya bahkan harus begadang. Ketika air mulai mengalir pada malam atau dini hari, kesempatan itu tidak boleh dilewatkan. Semua wadah yang tersedia segera dikeluarkan. Loyang, ember, jeriken hingga wadah berukuran paling kecil diisi. Bukan untuk persediaan berhari-hari. Hanya untuk memastikan kebutuhan dasar rumah tangga tetap bisa terpenuhi.
Masalah menjadi semakin berat ketika air tidak mengalir selama dua hari. Kami, lanjut ibu muda ini, akhirnya mencari pertolongan ke rumah tetangga yang masih mendapatkan aliran air. Namun meminta air kepada tetangga juga tidak selalu mudah. Kadang diperbolehkan mengambil. Kadang tidak. Sebab, tetangga juga punya keluhan yang sama dengan kami. Pilihan lain sebenarnya tersedia yakni membeli air galon. Setiap membeli ongkosnya ratusan ribu. Pilihan lain juga adalah menggunakan air tanah.
Tetapi bagi warga yang tinggal di kawasan perbukitan, pilihan itu bukan perkara sederhana. Pendapatan suami ibu muda ini, hanya demi bisa makan. Bukan membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan air. Apalagi air tanah, mereka memperkirakan pengeboran harus mencapai kedalaman lebih dari 10 meter. Biayanya pun disebut dapat mencapai belasan juta rupiah. “Kami tidak punya uang sebanyak itu, pendapatan suami saya terbatas,” jelas ibu muda ini.
Bagi ibu muda ini, kemampuan ekonomi keluarganya terbatas, angka tersebut bukan jumlah yang mudah disiapkan. Akhirnya, mereka kembali kepada satu-satunya harapan. Menunggu air PDAM mengalir. Menunggu dan terus menunggu. Sang ibu muda ini mengaku telah menyampaikan keluhan dengan warga lain kepada pihak PDAM Kecamatan Luwuk Utara.
Bahkan, mereka mengaku pernah melakukan aksi demo di kantor PDAM Kecamatan Luwuk Utara untuk menyuarakan persoalan tersebut. Namun menurut mereka, kondisi air belum juga normal. Berbagai alasan disebut telah mereka dengar. Mulai dari debit air kurang hingga petugas yang masih menangani pekerjaan lain.
Bagi sang ibu muda ini, alasan tersebut tidak menyelesaikan kebutuhan mereka. Persoalannya sederhana. Mereka membutuhkan air. “Kalau air jalan, paling dua sampai tiga jam. Itu pun tidak lancar. Ibaratnya, kencing anak saya masih kencang ketimbang air PDAM. Kondisi ini terus kami alami. Kadang, tampungan kami belum terisi penuh, air sudah mati,” keluh ibu muda tersebut.
Kekecewaan warga tidak hanya tertuju pada persoalan teknis aliran air. Mereka juga mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap rumah tangga yang belum mendapatkan layanan air secara normal. Menurut warga, pejabat pemerintah yang ditunjuk Bupati Banggai untuk menangani persoalan air seharusnya melihat langsung kondisi rumah tangga yang mengalami kesulitan.
Warga menilai kunjungan lapangan tidak cukup jika hanya dilakukan ke rumah yang kebetulan mendapatkan aliran air. Sebab, kata ibu muda ini, kondisi di satu rumah belum tentu menggambarkan kondisi seluruh warga. Keluhan tersebut merupakan pandangan warga yang masih membutuhkan penjelasan dan konfirmasi dari pihak pemerintah maupun pengelola layanan air. Namun bagi warga yang setiap hari membuka kran tanpa mendapatkan air, persoalannya terasa sangat nyata.
Mereka tidak membutuhkan foto kegiatan pejabat yang turun lapangan lalu melaporkannya kepada Bupati. Mereka membutuhkan air yang benar-benar mengalir. Warga juga mempertanyakan peran wakil rakyat di DPRD Banggai. “Jangan hanya turun sidak pada masalah lain, sementara untuk kebutuhan air tidak di sidak,” ketus ibu muda ini.
Mereka juga mengaku telah menyampaikan aspirasi dan bahkan turun melakukan aksi di kantor PDAM Luwuk Utara beberapa bulan lalu. Mereka berteriak. Mereka menyampaikan keluhan. Suara mereka habis. Tetapi menurut pengakuan sang ibu muda ini, persoalan air belum juga menemukan penyelesaian yang mereka rasakan secara nyata.
“Sampai kapan kami harus berteriak untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi kebutuhan dasar setiap hari? Sampai kapan kami harus begadang hanya untuk menunggu air? Dan sampai kapan kami harus meminta air kepada tetangga ketika kran di rumah sendiri tidak mengeluarkan setetes pun air?,” tanya sang ibu muda ini.
Sembari membuatkan secangkir kopi, sang ibu muda itu melanjutkan, air bukan barang mewah. Warga membutuhkannya untuk memasak, mandi, mencuci, membersihkan rumah dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Karena itu, bagi warga Desa Awu yang mengalami gangguan layanan, persoalan air bukan sekadar kran yang kering. Ini menyangkut bagaimana sebuah keluarga menjalani hari.
Para pejabat itu tahu, Ketika air tidak mengalir pekerjaan rumah tangga ikut terganggu. Ketika air hanya mengalir beberapa jam, warga harus mengubah waktu istirahat menjadi waktu menampung air. Ketika air tidak mengalir selama berhari-hari, mereka harus mencari sumber lain agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Di tengah kondisi itu, warga hanya berharap pihak yang memiliki kewenangan tidak sekadar mendengar keluhan mereka. Mereka ingin kondisi di lapangan benar-benar dilihat. Bukan hanya rumah yang airnya mengalir. Tetapi juga rumah-rumah yang krannya terus berbunyi klek… klek…, sementara tidak ada air yang keluar. Warga tidak meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin ketika kran diputar, air benar-benar mengalir.
Penulis: Muhammad Pritzno











