KKN UML Angkatan 40 Kunjungi Panti Asuhan Aisyah

LUWUK — Pengabdian mahasiswa kepada masyarakat tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk program besar. Terkadang, kepedulian justru dimulai dari langkah sederhana, yakni datang, bertemu, mendengar, dan memberi perhatian.

Pesan itu dibawa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Luwuk (UML) angkatan ke-40 saat bersilaturahmi ke Panti Asuhan Putri Aisyah Kabupaten Banggai, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Panti Asuhan Aisyah Kabupaten Banggai, Sartini S. Rachman, S.E., Ketua Pimpinan Aisyiyah Kabupaten Banggai dr. Ernita Kamindang, Sp.PD., serta para ibu pengasuh dan anak-anak panti.

Perwakilan mahasiswa KKN UML angkatan ke-40, Munir, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Ia menyampaikan apresiasi kepada pengelola Panti Asuhan Aisyah yang telah menerima kedatangan mahasiswa dengan baik serta menyediakan tempat dan fasilitas untuk kegiatan silaturahmi.

Namun bagi Munir, makna kunjungan itu tidak berhenti pada kegiatan berbagi. Menurutnya, mahasiswa ingin membangun hubungan kemanusiaan dengan anak-anak panti sekaligus memberikan dukungan moral dan material. “Silaturahmi ini bukan hanya tentang berbagi. Kami ingin merasakan kebahagiaan bersama dan memberikan dukungan moral serta material kepada adik-adik,” ujar Munir.

Ia menilai pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar memahami kehidupan sosial secara langsung. Sebab, menurutnya, pengabdian mahasiswa tidak seharusnya hanya diukur dari program yang selesai dilaksanakan, tetapi juga dari hubungan sosial yang mampu dibangun selama berada di tengah masyarakat.

Munir berharap hubungan antara mahasiswa KKN UML dan Panti Asuhan Aisyah tetap terjaga setelah masa KKN berakhir. Ia mengatakan pertemuan tersebut menjadi awal untuk saling mengenal lebih dekat antara mahasiswa, pengurus, pengasuh, dan anak-anak panti. “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta,” katanya.

Bagi Munir, ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya membangun hubungan sebelum berharap lahir kepedulian. Ia berharap silaturahmi yang terbangun tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN. “Kami berharap hubungan silaturahmi dengan Panti Asuhan Aisyah tetap terjaga meskipun teman-teman mahasiswa nantinya sudah selesai melaksanakan KKN,” ujarnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa KKN dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat persoalan masyarakat dari jarak yang lebih dekat. Bukan hanya datang membawa program, tetapi juga membuka ruang untuk mengenal, mendengar, dan memahami. Bagi Munir dan rekan-rekannya, pengabdian tidak selesai ketika agenda KKN berakhir. Pengabdian justru menjadi lebih berarti ketika hubungan kemanusiaan tetap hidup setelah kegiatan selesai.

CB: PRZ