LUWUK — Di tengah sorotan publik terhadap kualitas pendidikan dan karakter generasi muda, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengambil langkah yang tak biasa.
Sejumlah guru SMA dan SMK di Kabupaten Banggai mengikuti Program Pendidikan Rohani dengan tinggal di masjid selama tiga hari dalam kegiatan Khuruj Berjamaah.
Program yang diinisiasi Gubernur Sulawesi Tengah itu menjadi bagian dari pembinaan spiritual bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pendidik, khususnya di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah V.
Puncak kegiatan akan digelar melalui Bayan Hidayah pada Jumat, 8 Mei 2026, di Masjid Ittihad, sebelum pelaksanaan Salat Ashar.
Pelaksana Harian Kepala Cabang Dinas Dikmen Wilayah V, Ramadhan Tambong, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi upaya membangun karakter guru agar berdampak langsung dalam kehidupan sosial dan pendidikan.
“Khuruj bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai yang didapat di masjid bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, di sekolah, dan di keluarga,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Selama tiga hari, para peserta menjalani aktivitas keagamaan di masjid, mulai dari ibadah, dakwah, taklim, hingga khidmat atau pelayanan sosial. Seluruh kegiatan diikuti secara sukarela oleh guru SMA dan SMK di wilayah kerja Cabang Dinas Dikmen Wilayah V.
Menurut Ramadhan, program tersebut diharapkan mampu membentuk guru yang tidak hanya mengajar secara akademik, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
“Guru adalah teladan. Dari masjid kita bawa akhlak, disiplin, musyawarah, dan kepedulian ke ruang kelas. Ini bagian dari ikhtiar membentuk generasi berkarakter,” tambahnya.
Dalam kegiatan Bayan Hidayah, tausiyah akan disampaikan oleh Ustadz Mahyudin dengan tema “Membawa Semangat Masjid ke Sekolah dan Rumah”. Materi tersebut akan menekankan lima amalan utama masjid, yakni musyawarah, taklim wa taklum, jaulah, ibadah infiradi, dan khidmat.
Panitia juga membuka kegiatan tersebut untuk ASN, tokoh masyarakat, serta warga sekitar yang ingin mengikuti program dakwah dan pembinaan rohani bersama para guru.
Program ini menjadi perhatian publik karena menghadirkan pendekatan berbeda dalam pembinaan tenaga pendidik, dengan menitikberatkan pada penguatan moral dan spiritual sebagai bagian dari pembangunan karakter di lingkungan sekolah.
CB: HJR
