Angin Kencang Nelayan Terganggu, Pasokan Ikan Jadi Mahal

LUWUK – Angin kencang yang melanda perairan Banggai mulai terasa dampaknya di meja makan warga. Aktivitas nelayan terganggu, pasokan ikan berkurang, dan harga sejumlah kebutuhan dapur di Pasar Simpong, Luwuk, ikut bergerak naik pada sepekan terakhir.

Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah seorang pedagang ikan di Pasar Simpong, Pak Omi, mengatakan kenaikan harga ikan terjadi karena nelayan kesulitan melaut akibat kondisi angin. “Harga ikan naik karena angin. Nelayan agak susah,” kata Omi, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong harga ikan naik sekitar Rp30.000 per kilogram dibandingkan harga normal. Kenaikan tidak hanya terjadi pada ikan. Komoditas dapur seperti bawang merah Bima juga berada di angka Rp60.000 per kilogram untuk harga eceran.

Bagi masyarakat, Setiap kenaikan harga berarti ibu rumah tangga harus kembali menghitung isi dompet sebelum memenuhi kebutuhan dapur. Jika kondisi cuaca terus menghambat aktivitas nelayan dan pasokan tidak segera kembali normal, tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga berpotensi semakin besar.

Warga berharap cuaca segera membaik sehingga nelayan dapat kembali melaut dan pasokan ikan ke pasar kembali lancar. Dengan begitu, harga di tingkat pedagang diharapkan dapat kembali turun. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan perlu memperkuat pemantauan harga dan ketersediaan pasokan di pasar. Langkah itu penting untuk memastikan kenaikan harga tidak berkembang menjadi beban yang semakin berat bagi masyarakat.

Pasar Simpong kini menjadi salah satu tempat masyarakat merasakan langsung dampak cuaca buruk. Angin yang bertiup di laut mungkin tidak terlihat dari meja makan, tetapi dampaknya mulai terasa dari harga yang harus dibayar warga.

CB: HJR