Opini

PI 10 Persen: Banggai Berhak Tahu Berapa Lifting, Berapa Biaya, Berapa Hasil Bersih

46
×

PI 10 Persen: Banggai Berhak Tahu Berapa Lifting, Berapa Biaya, Berapa Hasil Bersih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

LUWUK — Sepuluh persen mungkin terdengar seperti angka kecil. Tetapi ketika angka itu melekat pada pengelolaan kekayaan minyak dan gas bumi, nilainya tidak lagi sederhana.

Kabupaten Banggai sebagai daerah penghasil migas, PI 10 persen seharusnya tidak berhenti pada status kepemilikan. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting bagi masyarakat Banggai. Berapa sebenarnya nilai ekonomi dari PI tersebut dan berapa manfaat bersih yang akhirnya dapat kembali kepada daerah?

Pertanyaan itu penting karena tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki PI. Yang ingin dilihat masyarakat adalah manfaatnya. Jika pengelolaan PI menghasilkan keuntungan, pembagian hasil bersih melalui dividen sesuai mekanisme yang berlaku dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat pendapatan daerah. Pada titik ini PI 10 persen dapat memiliki arti yang lebih besar. Mengubah keberadaan sumber daya migas menjadi manfaat ekonomi yang bisa dirasakan daerah.

Namun, masyarakat Banggai tidak bisa menilai manfaat itu hanya dari angka 10 persen. Angka kepemilikan harus dibaca bersama angka produksi, biaya dan hasil usaha.

Berapa Migas yang Diangkat? Masyarakat Banggai tentu tidak harus menjadi ahli migas untuk memahami persoalan ini. Cukup dengan mengetahui tiga hal utama yakni berapa lifting, berapa biaya, dan berapa hasil bersih.

Lifting menggambarkan jumlah minyak atau gas yang diangkat dari kegiatan produksi. Dari angka inilah publik dapat melihat skala produksi yang menjadi bagian penting dalam menghitung nilai ekonomi pengelolaan migas. Kemudian ada biaya. Produksi migas membutuhkan biaya. Karena itu, membicarakan potensi keuntungan tanpa melihat biaya produksi akan menghasilkan gambaran yang tidak utuh.

Setelah produksi dan biaya dihitung, barulah pertanyaan berikutnya menjadi penting. Berapa hasil bersih yang tersedia dan berapa bagian yang dapat menjadi manfaat bagi daerah? Di sinilah transparansi menjadi kebutuhan, bukan hanya pelengkap.

PI 10 persen juga seharusnya menjadi kesempatan bagi Banggai untuk memperoleh pengalaman langsung dalam pengelolaan wilayah kerja migas. Daerah tidak hanya menerima manfaat ekonomi, tetapi juga memiliki kesempatan memahami bagaimana sebuah kegiatan usaha migas berjalan.

Pengalaman tersebut penting karena kekayaan migas tidak hanya berbicara tentang apa yang keluar dari perut bumi. Ada proses bisnis di belakangnya. Ada produksi. Ada penghitungan cadangan. Ada biaya. Ada risiko. Ada pendapatan. Dan pada akhirnya ada hasil usaha.

Jika daerah ingin mendapatkan manfaat maksimal dari PI, maka kemampuan memahami seluruh rangkaian tersebut menjadi sangat penting. Jangan sampai daerah hanya tahu bahwa dirinya memiliki 10 persen, tetapi tidak cukup memahami bagaimana angka itu menghasilkan nilai ekonomi.

Selain lifting dan biaya produksi, informasi mengenai cadangan juga memiliki arti penting. Cadangan menggambarkan gambaran mengenai potensi sumber daya yang masih dapat diproduksikan. Karena itu, informasi mengenai cadangan menjadi bagian penting ketika daerah membicarakan masa depan PI dan manfaat ekonominya.

Masyarakat Banggai tidak sedang meminta angka untuk hanya memenuhi rasa ingin tahu. Namun membutuhkan informasi agar dapat memahami secara rasional seberapa besar potensi kekayaan migas yang sedang dibicarakan. Sebab tanpa informasi yang memadai, angka 10 persen mudah berubah menjadi sekadar slogan.

Pada akhirnya, pembahasan PI 10 persen Banggai harus kembali kepada kepentingan daerah. Tujuannya bukan hanya memiliki bagian dalam pengelolaan blok migas. Tujuannya adalah memastikan keterlibatan tersebut memberikan manfaat ekonomi yang jelas bagi daerah.

Jika terdapat hasil bersih yang dapat dibagikan sebagai dividen melalui mekanisme yang berlaku, maka manfaat tersebut berpotensi memperkuat pendapatan daerah. Tetapi untuk sampai pada titik itu, publik membutuhkan transparansi. Berapa lifting-nya? Berapa cadangannya? Berapa biaya produksinya? Berapa hasil bersihnya? Dan berapa yang akhirnya kembali kepada daerah?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk kecurigaan. Itu adalah bentuk kepedulian terhadap kekayaan daerah. Banggai tidak cukup hanya diberi tahu bahwa daerahnya memiliki PI 10 persen. Banggai berhak memahami nilai di balik 10 persen tersebut. Karena ukuran keberhasilan PI bukan terletak pada besarnya angka yang tertulis dalam dokumen. Ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar manfaat yang benar-benar kembali kepada daerah dan masyarakat.

Sepuluh persen harus memiliki arti. Bukan hanya sebagai angka kepemilikan, tetapi sebagai jalan menuju manfaat ekonomi yang transparan, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penulis: Muhammad Pritzno