Opini

Hadianto dan Cerita Panjang Sebelum Kursi Wali Kota

75
×

Hadianto dan Cerita Panjang Sebelum Kursi Wali Kota

Sebarkan artikel ini
Walikota Palu, Hadianto Rasyid Memberikan Sambutan di Kompleks Kelapa Dua Atas, Kelurahan Simpong, Kecamatan Luwuk Selatan, Banggai-Sulteng, Minggu (20/9/2026)

LUWUK — Tidak ada panggung besar di rumah Dedi Laheba, kompleks Kelapa Dua Atas, Kelurahan Simpong, Kecamatan Luwuk Selatan, Minggu (20/9/2026).

Hanya ruang sederhana. Para orang tua, imam masjid, anak muda, dan kaum ibu duduk bersama. Mereka datang untuk menyambut Hadianto Rasyid, Wali Kota Palu, yang berkunjung ke tengah masyarakat.

Jabat tangan menjadi pembuka. Ucapan selamat datang disampaikan pembawa acara. Setelah itu, Hadianto mendapat kesempatan untuk bercerita di hadapan warga. Cerita yang keluar bukan hanya tentang Palu. Ia membawa warga menyusuri perjalanan hidupnya dari masa sekolah, dunia usaha, hingga politik yang akhirnya mengantarkannya ke kursi Wali Kota Palu.

Hadianto menceritakan bahwa nama dirinya memiliki cerita tersendiri. Nama sebenarnya adalah Hadipodo. Ia menjelaskan istilah “Podo” dalam bahasa Palu yang berarti anak yang tembem.

Pendidikan membawanya meninggalkan Palu. Ia menempuh sekolah dasar di Makassar, kemudian masuk pondok di Jawa Timur, sebelum melanjutkan kuliah di Jakarta.

Tahun 2002, ia kembali ke Palu. Di kota itu, Hadianto menjalankan perusahaan milik orang tuanya, Hj. Rasyid, yang disebutnya sebagai pengusaha batu pertama di Kota Palu. Lima tahun kemudian, arah hidupnya berubah.

Pada akhir 2007, ia diajak masuk ke dunia politik. Tahun 2009, ia berhasil menjadi anggota DPRD Kota Palu. Namun, perjalanan menuju kursi kepala daerah tidak selalu mulus. Hadianto pernah masuk dalam bursa calon wakil wali kota Palu, tetapi belum berhasil. Pada 2014, ia kemudian menjadi anggota DPRD Provinsi. Ia kembali mencoba maju dalam pemilihan kepala daerah. Kali ini sebagai calon wali kota Palu. Hasilnya kembali tidak sesuai harapan. Ia kalah dari pasangan Hidayat-Pasha Ungu.

Tetapi ia tidak berhenti. Pada Pilwakot 2020, Hadianto kembali maju dan terpilih menjadi Wali Kota Palu. Kepercayaan masyarakat kemudian kembali ia dapatkan untuk memimpin Palu pada periode kedua. Kini, ketika periode keduanya menjadi periode terakhirnya sebagai Wali Kota Palu, langkah Hadianto terlihat semakin sering bersentuhan dengan daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah. Ia mengatakan sedang mencoba mendengarkan keluhan masyarakat di berbagai daerah.

Kalimat ‘mendengarkan keluhan masyarakat di berbagai daerah, dalam politik, dan intensitas seseorang hadir dari satu daerah ke daerah lain selalu menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk bertanya. Apa yang sebenarnya sedang dicari? Sekadar mendengar? Atau sedang membaca denyut masyarakat Sulawesi Tengah secara lebih luas?

Di Simpong, pertanyaan itu tidak dijawab secara terbuka. Hadianto tidak menyatakan di hadapan warga bahwa dirinya akan maju sebagai calon gubernur Sulawesi Tengah. Ia hanya hadir, bercerita tentang perjalanan hidupnya, lalu berbicara tentang keinginannya mendengarkan masyarakat di berbagai daerah.

Tetapi pergerakannya menarik untuk diperhatikan. Seorang wali kota yang masa jabatannya memasuki periode terakhir, kemudian semakin intens berkunjung ke daerah-daerah di provinsi yang lebih luas.

Dari Palu, langkahnya mulai terlihat di luar batas wilayah pemerintahan yang dipimpinnya. Dan setiap kunjungan menghadirkan pertemuan dengan kelompok masyarakat yang berbeda. Ada tokoh masyarakat. Ada imam masjid. Ada anak muda. Ada kaum ibu. Ada pula para orang tua.

Di hadapan mereka, Hadianto membawa cerita tentang perjalanan yang tidak selalu berisi kemenangan. Ia pernah kalah sebelum akhirnya memenangkan Pilwakot 2020. Ia kembali dipercaya memimpin Palu untuk periode kedua. Kini, ia mengatakan sedang mendengarkan masyarakat Sulawesi Tengah.

Bagi sebagian orang, rangkaian kunjungan itu mungkin hanya sebuah perjalanan silaturahmi. Bagi sebagian lainnya, intensitas tersebut bisa dibaca sebagai sesuatu yang lebih besar. Tetapi Hadianto belum memberikan kesimpulan itu. Warga pun masih memiliki ruang untuk membaca sendiri arah langkahnya. Sebab dalam politik, terkadang seseorang tidak perlu mengatakan ke mana ia akan pergi. Cukup lihat ke mana kakinya terus melangkah. Dan kini, langkah Hadianto tidak hanya terlihat di Palu.

Ia mulai lebih sering hadir di berbagai daerah di Sulawesi Tengah, seperti di Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut. Apakah itu sekadar perjalanan untuk mendengar suara masyarakat? Atau sedang menjadi awal dari perjalanan menuju panggung yang lebih besar? Jawabannya, untuk saat ini, biarlah masyarakat Sulawesi Tengah sendiri yang menyimpulkannya.

Penulis: Muhammad Pritzno