Daerah

HIV Tak Cukup Dilawan dengan Tes

57
×

HIV Tak Cukup Dilawan dengan Tes

Sebarkan artikel ini
Adrian (Kiri), Rampia Laamiri (Kanan)

LUWUK — Temuan 1.040 kasus HIV secara kumulatif hingga Juli 2026 membuat upaya pencegahan menjadi semakin penting. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banggai mendorong masyarakat tidak hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi juga memperkuat pengetahuan dan perilaku pencegahan.

Sekretaris KPA Kabupaten Banggai, Rampia Laamiri, menjelaskan langkah pencegahan HIV melalui konsep ABCDE saat menjadi narasumber dalam Konek Podcast yang diposting melalui YouTube pada 29 September 2026.

Menurut Rampia, huruf pertama, A, berarti Abstinence atau tidak melakukan hubungan seksual bagi mereka yang belum menikah. Kedua, B, berarti Be Faithful. Bagi mereka yang sudah menikah, Rampia menganjurkan agar tetap setia kepada pasangan. Ketiga, C, berarti Condom. Rampia menjelaskan penggunaan kondom sebagai salah satu langkah bagi mereka yang tidak mampu menerapkan abstinensi atau tidak setia kepada pasangan.

Namun, dalam penjelasannya, Rampia mengatakan KPA tidak menganjurkan pendekatan tersebut bagi mereka yang belum menikah atau masih berstatus pelajar. Untuk pelajar dan mahasiswa, KPA menganjurkan tidak melakukan hubungan seksual.

Keempat, D, berarti Drugs. Masyarakat diminta tidak menggunakan narkoba, terutama narkoba suntik. Rampia menyebut penularan HIV melalui narkoba suntik di Kabupaten Banggai sudah tidak ditemukan. Ia mengatakan penularan yang ada berkaitan dengan hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual.

Kelima, E, berarti Equipment, yang dalam penjelasan Rampia diarahkan pada pentingnya mencari informasi yang benar mengenai HIV/AIDS. Menurutnya, masyarakat harus berhati-hati terhadap informasi yang beredar karena tidak semua informasi mengenai HIV/AIDS benar. KPA juga memberi perhatian kepada sejumlah kelompok yang disebut sebagai populasi kunci, yakni pekerja seks perempuan, waria, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki, pelanggan pekerja seks, serta pengguna narkoba suntik.

Rampia mengatakan kelompok tersebut menjadi bagian dari perhatian dalam upaya pencegahan HIV. Namun, pencegahan tidak dapat dibebankan kepada kelompok tertentu saja. Kasus pada usia muda yang sebelumnya disampaikan Rampia menunjukkan bahwa edukasi juga harus masuk ke lingkungan keluarga dan sekolah. Orang tua perlu mengambil peran dalam mendampingi anak. Guru perlu memberikan edukasi. Masyarakat juga perlu membantu menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak memperoleh informasi yang benar.

Bagi KPA Kabupaten Banggai, edukasi menjadi salah satu kunci untuk menekan penularan HIV. Sebab, ketika informasi yang benar tidak sampai kepada masyarakat, ruang kosong itu dapat diisi oleh informasi yang keliru. Karena itu, masyarakat perlu memahami bagaimana risiko itu dapat dicegah sebelum menambah angka kasus berikutnya.

Penulis: Muhammad Pritzno