Scroll untuk baca artikel
Gambar Tergenerate
Daerah

Berani Cerdas, Wahyudin: Jangan Biarkan Anak Desa Kehilangan Mimpi

39
×

Berani Cerdas, Wahyudin: Jangan Biarkan Anak Desa Kehilangan Mimpi

Sebarkan artikel ini
Rektor Unismuh Luwuk Sutrisno K Djawa (Jas Hijau), Ketua Pemuda Muhammadiyah Banggai Wahyudin Rahman (Jas Krem)

LUWUK — Keterbatasan ekonomi, minimnya informasi, hingga jauhnya akses pendidikan masih berpotensi mematikan cita-cita generasi muda sebelum mereka sempat mewujudkannya. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya menjadi hak mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Setiap anak, termasuk yang tumbuh di rumah sederhana milik petani dan nelayan, harus memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin masa depan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pemuda Muhammadiyah Banggai sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Wahyudin Rahman, dalam kegiatan kuliah umum bersama Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, Rabu (4/11/2026), bertempat di pelataran Kampus Unismuh Luwuk.

Wahyudin mengapresiasi kehadiran mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, partisipasi mahasiswa menjadi bukti bahwa pendidikan dan pembangunan generasi muda merupakan agenda bersama yang harus terus dikawal. Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan ikhtiar untuk membuka ruang bagi generasi muda sekaligus meningkatkan semangat dan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Kegiatan itu juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda. Wahyudin mengajak mahasiswa kembali melihat sejarah 1928, ketika para pemuda Indonesia berani mengambil peran besar dalam mempersatukan bangsa, jauh sebelum Indonesia merdeka. “Pemuda waktu itu tidak lahir dari orang-orang yang mapan. Justru mereka lahir dari orang-orang yang memiliki keberanian untuk bermimpi tentang Indonesia, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka,” ungkapnya.

Ia kemudian melontarkan pertanyaan reflektif kepada generasi muda Sulawesi Tengah, jika pemuda pada 1928 mampu mempersatukan bangsa, apa yang dapat dilakukan pemuda Sulteng hari ini?

Menurut Wahyudin, pertanyaan tersebut harus menjadi dorongan bagi mahasiswa untuk tidak sekadar menikmati fasilitas pendidikan, tetapi juga mempersiapkan diri mengambil bagian dalam pembangunan daerah. Ia mengingatkan bahwa di balik keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan, terdapat banyak potensi generasi muda yang belum mendapatkan kesempatan.

“Mungkin di sebuah desa kecil sedang tumbuh seorang profesor. Mungkin di sebuah rumah sederhana sedang tumbuh seorang dokter. Di rumah seorang petani mungkin sedang tumbuh seorang pengusaha besar, atau di rumah seorang nelayan sedang tumbuh seorang gubernur,” tuturnya.

Bahkan, menurutnya, mahasiswa yang hari ini menempuh pendidikan di kampus bisa saja menjadi pemimpin Sulawesi Tengah dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Wahyudin menegaskan, program Berani Cerdas tidak seharusnya dimaknai sebatas pemberian beasiswa. Lebih dari itu, program tersebut harus membangun kesadaran bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari masa depan daerah.

Bagi Pemuda Muhammadiyah, lanjutnya, pendidikan juga merupakan bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah. Karena itu, organisasinya akan terus mendukung berbagai upaya pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas generasi muda. Ia berharap kegiatan kuliah umum tersebut mampu melahirkan tiga hal penting, yakni meningkatnya kesadaran pemuda tentang pentingnya pendidikan, tumbuhnya pemahaman bahwa generasi muda merupakan bagian dari pembangunan Sulawesi Tengah, serta terbangunnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul.

Wahyudin juga melihat adanya keselarasan antara visi Gubernur Anwar Hafid melalui program Berani Cerdas dengan semangat pendidikan Muhammadiyah. Ia mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, tentang pentingnya kemajuan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. “Setelah kalian dibiayai melalui Berani Cerdas, maka kembalilah untuk membangun Sulteng,” tegasnya.

Hal tersebut menjadi penekanan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan bukanlah tujuan akhir. Generasi muda yang mendapatkan dukungan pendidikan diharapkan kembali memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah. Ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak anak muda yang berhasil meraih gelar akademik, tetapi juga seberapa besar ilmu yang mereka miliki mampu mengubah kehidupan masyarakat dan membangun masa depan Sulawesi Tengah.

Penulis: Muh. Pritzno

Gambar Tergenerate
Gambar Tergenerate