LUWUK — Pernahkah membayangkan seorang mahasiswa harus bekerja sebagai buruh pengangkut kopra, membongkar muatan truk, bahkan menahan lapar karena hanya mampu makan sekali sehari, demi mempertahankan mimpinya mengenyam pendidikan tinggi?
Itulah masa lalu Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid. Di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Rabu (4/11/2026), Anwar membuka kembali kisah hidup yang membentuk keyakinannya tentang pendidikan. Bukan kisah keberhasilan seorang pejabat, tetapi cerita seorang anak dari keluarga sederhana yang pernah hampir kehilangan kesempatan untuk sekolah karena keterbatasan ekonomi. “Saya sering menangis dulu, saya dan orang tua saya juga sering menangis, karena saya punya semangat besar, tapi orang tua tidak mampu menyekolahkan saya,” ungkapnya.
Anwar berasal dari keluarga dengan tujuh bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Dalam keadaan ekonomi yang serba terbatas, membiayai pendidikan anak bukan perkara mudah. Namun, ia tidak ingin kemiskinan menjadi alasan untuk menyerah pada cita-cita. Ia meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarganya. Cita-citanya semula menjadi dokter. Namun, setelah tidak lolos di fakultas kedokteran, ia memilih melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Untuk membiayai hidup dan mempertahankan pendidikannya, Anwar harus bekerja sebagai buruh. Ia mengangkat barang-barang milik orang dari kampung halamannya, Wosu, termasuk kopra. Ia juga membongkar muatan truk demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup dan melanjutkan kuliah. “Untuk bisa membiayai hidup, saya terpaksa menjadi buruh. Saya pergi bongkar itu truk, mendapatkan uang hanya untuk bisa saya sekolah,” tuturnya.
Bahkan, ada masa ketika ia hanya makan satu kali sehari. Bagi Anwar, pendidikan bukan sekadar urusan mendapatkan ijazah. Pendidikan adalah pertaruhan masa depan, terutama bagi anak-anak yang lahir dari keluarga tidak mampu. Di tengah kesulitan itu, ia terus memegang keyakinan terhadap firman Allah SWT, Inna ma’al ‘usri yusra, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Ia juga mengingat pesan Al-Qur’an tentang Allah yang meninggikan derajat orang-orang berilmu. “Jadi kita yang menuntut ilmu ini, adik-adik, kita sedang berjihad. Kita sedang berjihad fi sabilillah,” katanya.
Pengalaman hidup tersebut ternyata tidak berhenti sebagai kenangan. Anwar mengaku menjadikan perjuangannya mendapatkan pendidikan sebagai salah satu alasan lahirnya program Berani Cerdas. Ia menegaskan, program itu bukan gagasan yang baru muncul setelah dirinya menjadi Gubernur Sulawesi Tengah. Jauh sebelumnya, ketika menjabat Bupati Morowali selama dua periode atau 10 tahun, ia telah memberikan bantuan pendidikan kepada mahasiswa. Saat itu, kata Anwar, APBD Morowali hanya sekitar Rp700 miliar. Meski kemampuan anggaran daerah terbatas, ia tetap meyakini pendidikan harus mendapatkan perhatian.
Keyakinan tersebut kemudian ia bawa ke tingkat Provinsi Sulawesi Tengah. Anwar mengungkapkan, anggaran yang telah digunakan untuk program Berani Cerdas mencapai Rp367 miliar. Besarnya anggaran itu, menurutnya, tidak menjadi alasan untuk menghentikan program yang membuka akses pendidikan bagi masyarakat. Ia bahkan membandingkan pilihan mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dengan pembangunan proyek fisik. “Kalau saya pakai bikin proyek, wah senyum-senyum juga saya karena biasanya kontraktor kasih fee juga sedikit sama kita. Tapi saya tidak pikir begitu. Yang saya pikir bagaimana anak Sulteng ini yang merasakan penderitaan saya dulu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan alasan personal di balik kebijakan pendidikan yang ia dorong. Ia tidak ingin anak-anak Sulawesi Tengah mengalami kesulitan yang sama seperti dirinya ketika harus berjuang mendapatkan biaya kuliah. Anwar juga mengaku pernah meminta jajaran Dinas Pendidikan agar memberikan kesempatan kepada calon penerima bantuan pendidikan dan tidak terlalu kaku dalam prosesnya. Untuk jenjang magister (S2) dan doktoral (S3), ia menyampaikan kebijakan agar mereka yang mendaftar diberikan kesempatan melanjutkan pendidikan.
Anwar juga menghubungkan keyakinannya dengan pengalaman sejumlah negara yang berhasil membangun kemajuan melalui pendidikan. Ia menceritakan pengalamannya berbincang dengan Gubernur Hainan dan Sichuan di China. Dalam percakapan itu, ia mendapatkan cerita mengenai kondisi China pada dekade 1970-an ketika negara tersebut masih menghadapi kemiskinan dan keterbatasan keuangan.
Menurut cerita yang disampaikan kepadanya, China mengirim sekitar satu juta anak muda untuk belajar ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali dan berkontribusi membangun negaranya dengan ilmu pengetahuan. Ia juga menyinggung Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan generasi muda.
Dari berbagai pengalaman tersebut, Anwar menarik kesimpulan bahwa kemajuan sebuah negara tidak dapat dipisahkan dari keberpihakan terhadap pendidikan. Ia bahkan menilai cita-cita Indonesia Emas 2045 akan sulit terwujud jika pemerintah tidak menjadikan pendidikan sebagai prioritas pembangunan. “Nonsens Indonesia di 2045 akan kita dapatkan Indonesia Emas kalau kita negara, daerah, tidak berpihak kepada pendidikan,” tegasnya.
Salah satu target besar yang disampaikan Anwar adalah menyiapkan 1.000 dokter melalui program pendidikan pada 2027. Untuk mencapai target tersebut, ia menantang sekitar 400 kepala SMA di Sulawesi Tengah agar setiap sekolah mampu melahirkan setidaknya satu siswa yang lolos seleksi fakultas kedokteran setiap tahun. Ia mengaku optimistis target tersebut dapat diwujudkan, meskipun membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
Hingga 2026, Anwar menyebut sekitar 3.000 orang telah menerima manfaat program Berani Cerdas. Ia juga meminta masyarakat yang masih mengalami kendala dalam mengakses program tersebut agar segera melaporkannya. “Sampai 2026 sudah ada 3.000 orang menerima Berani Cerdas. Jadi kalau ada yang masih ada halangan dan tidak bisa tembus Berani Cerdas, lapor,” katanya.
Anwar turut menjelaskan makna Sulteng Nambaso. Dalam bahasa Kaili, Nambaso berarti besar. Ia memaknainya sebagai singkatan dari anak miskin bisa sekolah. Pesannya kepada para orang tua sederhana, jangan takut menyekolahkan anak hanya karena keterbatasan ekonomi. Menurutnya, pendidikan merupakan jalan yang harus ditempuh jika sebuah keluarga ingin mengubah nasib generasi berikutnya.
Ada satu bagian menarik dari cerita Anwar di hadapan mahasiswa Unismuh Luwuk. Ia mengakui bahwa hasil program Berani Cerdas mungkin belum terlihat selama masa jabatannya sebagai gubernur. Ia bahkan menyadari kemungkinan munculnya kritik bahwa selama satu periode kepemimpinannya tidak banyak pembangunan fisik yang terlihat. Namun, ia mengaku tidak ingin menjadikan penilaian tersebut sebagai alasan untuk mengubah prioritasnya.
Anwar berharap, 20 tahun mendatang, ketika generasi penerima manfaat Berani Cerdas telah tumbuh dan berkiprah, Sulawesi Tengah dapat menjadi salah satu daerah yang maju di Indonesia. “Saya tidak peduli itu. Ini yang saya peduli, tulus dan ikhlas agar program Berani Cerdas berjalan. Tidak boleh lagi ada anak-anak kita di Sulteng ini yang mau kuliah tapi tidak punya biaya untuk kuliah,” tegasnya.
Dari seorang anak petani yang pernah bekerja sebagai buruh pengangkut kopra dan makan sekali sehari demi kuliah, Anwar kini berada pada posisi menentukan arah kebijakan pendidikan sebuah provinsi. Perjalanan hidupnya menjadi alasan mengapa ia ingin membuka kesempatan yang dahulu sulit ia dapatkan.
Bagi anak dari keluarga miskin, kesempatan kuliah bukan hanya tentang memperoleh gelar sarjana. Itu bisa menjadi awal perubahan nasib seluruh keluarga. Dan mungkin, itulah pesan paling kuat dari kisah Anwar Hafid di hadapan mahasiswa Unismuh Luwuk. Jangan biarkan kemiskinan orang tua menjadi batas akhir dari mimpi seorang anak.
Penulis: Muh. Pritzno











